Apakah Shalawat dan Salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Disyariatkan?

Apabila ada yang bertanya apakah bershalawat itu disyariatkan? Maka jawabannya adalah, iya. Di antara hak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disyariatkan Allah untuk umatnya adalah bershalawat dan mengucap salam kepadanya. Allah Ta’ala berfirman,

 إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”1

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa makna Allah bershalawat kepada Nabi maksudnya Allah memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan para malaikat. Adapun shalawat malaikat maksudnya adalah doa, sementara shalawat dari makhluk maksudnya adalah memohonkan ampunan2.

Allah mengabarkan di ayat ini mengenai kedudukan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisiNya adalah berada di suatu tempat bernama Al-Mala’ Al-A’la. Ayat ini juga mengabarkan bahwa Allah memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan para malaikat yang dekat. Ayat ini juga mengabarkan mengenai para malaikat bershalawat kepadanya. Kemudian setelah itu Allah memerintahkan makhluk-makhluk di alam yang rendah (yaitu makhluk di bumi) untuk bershalawat dan mengucap salam kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar terkumpul pujian kepadanya dari penduduk langit dan penduduk bumi.

Adapun makna سَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا adalah sampaikanlah salam dengan Tahiyatul Islam. Apabila hendak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hendaknya engkau menggabungkan antara shalawat dan salam. Sebisa mungkin kita tidak mencukupkan diri dengan salah satunya saja. Maka usahakan tidak hanya mengatakan shallallahu ‘alaihi atau ’alaihissalam saja. Allah memerintahkan untuk mengucapkan keduanya, maka ucapkanlah keduanya.

Kapan shalawat disyariatkan?

Bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disyariatkan dilakukan di beberapa kondisi, ada yang hukumnya wajib, ada juga yang sunnah.

Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitab Jalaa-ul Afhaami menyebutkan 41 kondisi yang disyariatkan untuk bershalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Di dalam tahiyatul akhir. Kondisi ini disebutkan pertama kali oleh Ibnu Qayyim rahimahullah karena ini adalah kondisi yang paling penting dan paling ditekankan untuk bershalawat. Kaum muslimin telah bersepakat mengenai disyariatkannya hal ini.
  2. Di dalam qunut.
  3. Di khutbah-khutbah seperti khutbah Jum’at, idul Fitri, idul adha, khutbah di shalat istisqa.
  4. Dalam doa setelah menjawab adzan.
  5. Ketika akan berdoa.
  6. Dalam doa sebelum masuk dan keluar masjid.
  7. Ketika menyebut nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Buah bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ibnu Qayyim rahimahullah juga menyebut buah yang dihasilkan dari bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah:

  1. Melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Ahzab: 56.
  2. Mendapat shalawat dari Allah sebanyak sepuluh kali.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 إذا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ، فَقُولوا مِثْلَ ما يقولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فإنَّه مَن صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللَّهُ عليه بها عَشْرًا

“Jika kalian mendengar mu’adzin maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku. Karena sesungguhnya barangsiapa yang bershalawat satu kali kepadaku maka Allah bershalawat untuknya sebanyak sepuluh kali.”3

  1. Harapan doa dikabulkan semakin besar jika didahului dengan membaca shalawat. 
  2. Merupakan sebab mendapat syafaat nabi di hari kiamat jika digabungkan dengan doa meminta wasilah untuk nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam doa setelah adzan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن قالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هذِه الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، والصَّلَاةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ والفَضِيلَةَ، وابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الذي وعَدْتَهُ، حَلَّتْ له شَفَاعَتي يَومَ القِيَامَةِ

“Barangsiapa yang mengucapkan ketika (selesai) mendengar azan mengucapkan, ‘Ya Allah Rabb dari doa yang sempurna ini dan shalat yang akan ditunaikan. Berikanlah kepada Muhammad wasilah dan fadhilah. Serta bangkitkanlah (beliau) di tempat yang mulia sebagaimana yang telah Engkau janjikan kepadanya.’ Maka layak baginya mendapatkan syafaatku di hari kiamat.”4

  1. Mendapat ampunan atas dosa-dosa.
  2. Menjadi sebab mendapat balasan shalawat dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka semoga melalui tulisan singkat ini menjadi jelas bahwa shalawat dan salam kepada Nabi adalah sesuatu yang disyariatkan, selama bukan berupa shalawat dengan cara tertentu yang tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi yang mulia ini.

[Diambil dari Mulakhas Kitab At-Tauhid karya Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah hal. 88-89 dengan beberapa tambahan.]

Penulis: Ummu Umaimah
Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief

Artikel Al-Mughni Center for Islamic Studies

Catatan Kaki:
  1. Surat Al-Ahzab: 56 []
  2. Riwayat ini disebutkan oleh Imam Bukhari dari Abul ‘Aliyah. []
  3. HR. Muslim. []
  4. HR. Bukhari. []

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top