Niat Sebagai Pembeda Antara Kebiasaan dan Ibadah

Allah adalah Dzat yang Maha Pemurah. Di antara kemurahan Allah adalah memberikan pintu yang mudah bagi para hamba-Nya untuk mendapatkan pahala. Tanpa disadari, kita dapat meraih pahala dari aktivitas sehari-hari kita hanya dengan niat. Niat kita dapat membedakan apakah aktivitas kita hanya sebuah kebiasaan atau dapat bernilai ibadah.

Syaikh Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan contoh tentang hal ini dalam kitabnya Syarhu al-Arba’in an-Nawawiyah:

“Contoh fungsi niat sebagai pembeda antara kebiasaan dengan ibadah:

Contoh pertama: Seseorang makan hanya karena lapar saja dan orang lain makan dalam rangka mematuhi perintah Allah ‘Azza wa Jalla: “Makanlah dan minumlah.”1 Orang yang kedua makan karena ibadah dan orang yang pertama makan hanya karena kebiasaan.

Contoh kedua: Seseorang mandi hanya untuk menyegarkan diri dan orang lain mandi karena junub. Maka yang pertama hanya kebiasaan dan yang kedua adalah ibadah. Karena itu, bila seseorang sedang junub, lalu dia mandi di laut untuk menyegarkan diri kemudian dia shalat, maka shalatnya tidak sah karena harus ada niat untuk menghilangkan junub, sementara dia tidak berniat untuknya dan hanya berniat untuk menyegarkan diri.

Oleh karena itu, sebagian ulama menyatakan:

عبادات أهل الغفلة عادات, وعادات أهل اليقظة عبادات

“Ibadah orang lalai adalah hanya sebatas kebiasaan, sedangkan kebiasaan orang yang sadar (berilmu) merupakan ibadah.” 2

Perhatikanlah apa yang dilakukan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah berkata:

أَمَّا أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُومُ وَأَرْجُو فِي نَوْمَتِي مَا أَرْجُو فِي قَوْمَتِي

“Adapun aku, maka aku tidur dan shalat malam. Dan aku berharap pahala dari tidurku sebagaimana pahala yang aku harapkan dari shalat malamku.” 3

Selain menyadari bahwa suatu kebiasaan dapat bernilai ibadah, kita juga harus berhati-hati dari kebalikannya, yaitu menjadikan ibadah kita hanya sekedar rutinitas dan formalitas sehingga tidak diganjar pahala karena luput dari menghadirkan niat untuk beribadah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya.” 4

Semoga Allah menjadikan aktivitas kita sebagai sumber pahala dan menjauhkan kita dari menjadikan ibadah hanya sebagai rutinitas semata.

Penulis: Muhammad Akbar
Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief

Artikel Al-Mughni Center for Islamic Studies

Catatan Kaki:
  1. Surat al-A’raf: 31 []
  2. Syarhu al-Arba’in an-Nawawiyah, karya Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin (hlm. 13) []
  3. Diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 6412) dan Muslim (no. 3403). []
  4. Diriwayatkan oleh al-Bukhariy (no. 1) dan Muslim (no. 1907). []

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top