Hubungan Antara Sabar dan Tauhid

Seorang muslim semestinya menyerahkan semua urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan hidup di dunia ini tidak pernah terlepas dari ujian. Baik itu ujian berupa kenikmatan atau ujian berupa kesulitan. Dalam hal ini agama terdiri atas dua bagian, yaitu syukur dan sabar, sehingga dapat dikatakan sabar adalah setengah dari agama.

Di antara ujian yang senantiasa menghampiri dan seringkali dirasa berat oleh sebagian manusia adalah ujian yang datang dengan perantara manusia. Ujian ini terkadang membuat seseorang lebih sulit untuk bersabar dalam menghadapinya dibandingkan ujian yang datang langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dengan adanya perbedaan karakter, perbedaan cara berinteraksi, membuat semua manusia dapat membuat kecewa. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang selamat dari kecewa kepada manusia lain.

Untuk menyikapi hal tersebut, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam risalahnya,

و يعين العبد على هذا الصبر عدة أشياء؛ أحدها: أن يشهد أن الله – سبحانه و تعالى – خالق أفعال العباد؛ حركاتهم وسكناتهم وإراداتهم، فماشاء الله كان وما لم يشأ لم يكن، فلا يتحرك في العالم العلوي والسفلي ذرة إلا بإذنه ومشيئته، فالعباد آلة، فانظر إلى الذي سلطهم عليك ولا تنظر إلى فعلهم بك، تسترح من الهم والغم.

“Beberapa hal yang membantu seorang hamba untuk bersabar; Pertama: Hendaklah ia bersaksi bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Pencipta semua perbuatan hamba, yaitu gerak-geriknya, diamnya, dan keinginannya. Maka apa pun yang Allah kehendaki pasti terjadi dan yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi. Tidaklah bergerak segala sesuatu di alam semesta ini baik yang besar maupun yang kecil sedikit pun kecuali dengan izin dan kehendak Allah, dan hamba hanyalah alat. Maka lihatlah kepada Dzat yang memberikan kuasa kepada mereka atasmu dan janganlah melihat pada perbuatan mereka kepadamu. Dengan begitu engkau akan terbebas dari kesedihan dan kegundahan.” 1

Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin al-Badr hafizhahullah ketika memberikan penjelasan terhadap perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah ini mengatakan bahwa, perbuatan hamba adalah makhluk. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” 2

Maka dengan memperkuat tauhid dan memiliki pemahaman yang benar, dapat membuat kita merasa lebih mudah menghadapi ujian-ujian, termasuk ujian yang bersumber dari interaksi dengan sesama manusia. Dalam hal ini janganlah terfokus pada perbuatannya yang menyakiti, namun ingatlah kepada Allah yang telah memberikan kuasa kepadanya untuk melakukan hal tersebut.

Apabila pandangan kita tertuju pada sisi ini, maka dampaknya kita dapat melihat sebab dalam diri. Membuat seseorang akan mengintrospeksi diri, dosa apa yang telah ia lakukan, sehingga Allah Ta’ala menakdirkan hal tersebut.

Penulis: Ummu ‘Abdillah
Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief

Artikel Al-Mughni Center for Islamic Studies

Catatan Kaki:
  1. al-Umuru al-Mu’inah ‘ala ash-Shabri ‘ala Adza al-Khalqi, karya Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin al-Badr (hlm. 8). []
  2. Surat at-Takwir: 29. []

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top