Mengapa Tidak Semua Orang Diberi Hidayah?

Sebuah pertanyaan yang muncul di benak sebagian orang: “Jika Allah menghendaki semua orang untuk beribadah kepada-Nya semata, mengapa Allah tidak memberikan hidayah kepada semua orang?” Dengan pertanyaan tersebut, sebagian orang pun menjadi ragu akan Islam dan melihat kontradiksi di dalamnya. Namun pada hakikatnya, keraguan tersebut muncul karena miskonsepsi terhadap syariat itu sendiri.

Dapat kita lihat, argumen tersebut sebenarnya didasari atas pemikiran: “Jika seseorang menghendaki terjadinya sesuatu, dia akan berusaha agar sesuatu tersebut terjadi.” Pertama kita perlu pahami, bahwa Allah Ta’ala tidak sama dengan manusia. Allah Ta’ala berfirman:

  لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.”1

Hanya karena kita sebagai manusia mempunyai konsep terkait sesuatu (semisal kehendak), kita tidak bisa langsung memahami Kehendak Allah menggunakan konsep tersebut. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui Sifat-Sifat Allah Ta’ala dan kebijaksanaan-Nya melalui jalan yang benar: al-Qur’an dan as-Sunnah.

Jenis-Jenis Iradah (Kehendak) Allah

Selanjutnya kita perlu memahami Kehendak Allah Ta’ala. Pembahasan ini disebutkan dalam banyak kitab ulama, di antaranya pada Syarh ‘Aqidah Wasithiyyah karya Syaikh Khalid Mushlih hafizhahullah. Kehendak Allah dapat dibagi menjadi dua, yang pembagian ini pun didasari atas dalil:

Pertama: Iradah Syar’iyyah

Merupakan kehendak yang hanya mencakup hal-hal yang Allah cintai. Termasuk ke dalam pembagian ini: ibadah dan setiap perintah Allah seperti tauhid, shalat, dll. Di antara dalil atas kehendak ini adalah firman Allah Ta’ala:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”2

Kedua: Iradah Kauniyyah

Merupakan kehendak Allah Ta’ala yang mencakup seluruh kejadian, baik yang Dia cintai maupun yang tidak. Oleh karena itu, kita dapat melihat ada banyak orang yang kufur, walaupun Allah Ta’ala membenci kekufuran, dan kita melihat banyak yang tidak shalat, walaupun Allah Ta’ala memerintahkan shalat. Semua kejadian itu dikehendaki oleh Allah Ta’ala, namun masuk ke dalam pembagian ini dan bukan ke pembagian sebelumnya. Di antara dalil atas kehendak ini adalah firman Allah:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.”3

Dapat pula kita simpulkan bahwa iradah kauniyyah mencakup iradah syar’iyyah. Oleh karena itu, dengan menggabungkan semua dalil terkait permasalahan ini barulah kita bisa mencapai pemahaman yang benar.

Tujuan Penciptaan Alam Semesta

Selain dengan memahami Kehendak Allah, pertanyaan di awal pembahasan juga dapat dijawab dengan mengenali Kehendak Allah Ta’ala ketika menciptakan alam semesta, yang tentunya juga harus dijawab dengan dalil. Allah Ta’ala berfirman:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”4

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.”5

Dari ayat-ayat diatas dapat dipahami bahwa memang Allah Ta’ala menciptakan alam semesta dan kehidupan di dalamnya untuk menguji makhluk-Nya. Ada yang gagal dalam ujian tersebut, dan ada yang berhasil. Sebagaimana ujian yang kita pahami pada umumnya, Allah juga memberikan bahan untuk ujian tersebut, yaitu petunjuk-Nya berupa al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka yang paling berhasil dalam ujian tersebut adalah mereka yang paling baik dalam mengikuti petunjuk-Nya.

ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ كِتَٰبًا مُّتَشَٰبِهًا مَّثَانِىَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.”6

Hadaanallaahu wa iyyaakum
Wa billaahit-taufiiq wal-hidaayah

Referensi: كتاب شرح العقيدة الواسطية لخالد المصلح

Penulis: Ardysatrio Fakhri Haroen
Muraja’ah: Ustadz Dr. Andy Octavian Latief

Artikel Al-Mughni Center for Islamic Studies

Catatan Kaki:
  1. Surat asy-Syura: 11 []
  2. Surat adz-Dzariyaat: 56 []
  3. Surat Saba’: 13 []
  4. Surat al-Mulk: 2 []
  5. Surat Hud: 7 []
  6. Surat az-Zumar: 23 []

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top